Di kota Nganjuk (kampung halaman saya), banyak sekali kuliner yang layak untuk pembaca coba. Salah satunya adalah dumbleg. Untuk mengetahui lebih banyak tentang dumbleg ini, silahkan baca artikel di bawah ini.
Dumbleg adalah jajanan tradisional khas kota Nganjuk, Jawa Timur, tepatnya di daerah kecamatan Gondang dan sekitarnya. Makanan yang unik ini memang mirip pudak (makanan khas Gresik) tapi yang membuat berbeda adalah rasa dan tampilannya. Rasa dumbleg ini manis legit dan bentuknya panjang seperti lontong.Terlalu tradisionalnya, jajanan ini hanya bisa ditemui di kota kecil di Pasar Pon Gondang atau Pasar Kliwon Rejoso, bahkan di kota Nganjuk pun susah di jumpai makanan ini. Bahkan banyak juga orang-orang Nganjuk tidak begitu banyak mengenal makanan lezat ini. Hal ini karena kurangnya promosi, sehingga kurang populer. Bahkan dumbleg kalah populer dengan Tahu Taqwa dari Kediri, Brem dari Madiun dan Ledre dari Bojonegoro. Hanya Nganjuk dan Jombang (Gupal) yang kurang mempromosikan jajanan khasnya yang unik ini.
Dumbleg ini terbuat dari tepung beras, gula jawa & santan yang dibungkus dari pelepah jambe/pohon pinang. Ada dua macam warna yakni cokelat dan putih. Sayangnya karena terbuat dari bahan yang relatif sederhana dan tanpa bahan pengawet, jajanan ini kurang begitu awet untuk di bawa sebagai oleh-oleh lebih dari 1 hari. Oleh karena itu tidak direkomendasikan jika dijadikan buah tangan untuk jarak jauh.
Harga dumbleg ini bervariasi tergantung ukuran dari dumbleg itu sendiri. Untuk ukuran kecil dapat dibeli dengan harga Rp 1500,00 per biji. Untuk ukuran sedang sampai besar dapat dibeli dengan harga Rp 3000,00 sampai Rp 4000,00 per biji.
Nah, dari uraian tersebut tampak bahwa banyak sekali problem yang berkaitan dengan jajanan dumbleg ini, diantaranya
1. Pembungkus dumbleg adalah pelepah pohon pinang atau jambe. Adakah pengaruh pembungkus ini terhadap rasa, bau, dan keawetan dari jajanan ini?
2. Dumbleg kurang populer karena kurang promosi. Kira-kira media apa yang cocok untuk promosi. Apakah lewat internet, promosi ke berbagai tempat secara langsung, lewat mulut ke mulut atau langsung mencoba saja?
3. Makanan ini tidak dapat tahan lama, sehingga tidak direkomendasikan sebagai buah tangan untuk perjalanan jarak jauh. Nah, setujukah para pembaca jika pada dumbleg ini ditambahkan pengawet?
Pembaca dapat memberikan alternatif jawaban atas permasalahan yang telah saya sebutkan di atas. Terima kasih atas komentarnya. Semoga bermanfaat untuk pengembangan jajanan dumbleg ini.
